Gara-gara Malas Minum Obat TBC, Yulinda Kehilangan Pekerjaan

Gara-gara Malas Minum Obat TBC, Kehilangan Pekerjaan

Andai saja saat pertama kali didiagnosis Tuberkulosis (TB atau TBC) Yulinda mau menjalani pengobatan sampai tuntas 6 bulan, ia mungkin tak perlu sampai kehilangan pekerjaan. Namun karena terlanjur mengalami TB kebal obat, ia harus menjadi pengobatan selama 2 tahun di Jakarta dan meninggalkan pekerjaan.

Yulinda Santosa, gadis 25 tahun ini didiagnosis TB pada tahun 2005. Saat itu ia memang langsung mendapatkan pengobatan. Sayangnya, wanita asal Bogor ini hanya betah 5 bulan untuk rutin minum obat yang diberikan oleh dokter. Padahal ia jelas-jelas tahu bahwa obat TB harus tuntas hingga 6 bulan dan ada risiko menjadi kebal obat. obat tuberkulosis

“Saya putus minum obat. Harusnya 6 bulan, saya baru 5 bulan sudah berhenti. Ya malas minumnya,” tutur Yulinda, saat ditemui di RSUP Persahabatan, Jakarta, Jumat (23/11/2012).

Akibat kebandelannya, TB Yulinda tak kunjung sembuh hingga sekarang. Bahkan sejak tahun 2011, ia didiagnosa dengan TB-MDR (Tuberculosis Multiple Drug Resistance atau TB kebal obat) dan harus menjalani perawatan lebih lanjut di RSUP Persahabatan selama 2 tahun.

Saat itu, kondisinya sudah sangat parah. Dengan tubuh lemas, berat badan hanya 34 kg, bahkan hingga batuk berdarah, dokter dari RS Marzuki Mahdi Bogor langsung mengambil sampel dahak dan ia pun ‘divonis’ TB kebal obat. Ia pun langsung dirujuk ke RSUP Persahabatan.

Karena harus setiap hari ke rumah sakit, Yulinda terpaksa menetap di Jakarta selama 2 tahun. Otomatis pekerjaannya di pabrik sepatu pun harus ditinggal demi kesembuhan.

“Ya setiap hari harus ke rumah sakit minum obat selama 2 tahun. Jadi saya kos di Jakarta. Sekarang tidak kerja semenjak disini,” ujar Yulinda yang mengenakan masker di wajahnya.

Tuberkulosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh kuman Mycobacterium tuberculosis. Meski mudah menular, penyakit yang kebanyakan menyerang paru ini bisa disembuhkan, asalkan si pasien tidak bandel dan tekun menjalai pengobatan.

Kenapa harus tekun? Karena untuk sembuh dari TB, pasien harus minum obat secara rutin selama 6 bulan. Banyak pasien yang akhirnya menjadi kebal obat dan tidak mempan lagi dengan obat biasa karena bandel dan tidak mau menjalani pengobatan setelah gejala hilang meski belum sampai 6 bulan.

Risikonya dapat terjadi mutasi kuman yang akhirnya menyebabkan TB kebal obat. Bila sudah begitu, untuk menyembuhkannya akan semakin lama hingga mencapai 2 tahun, dengan disuntik setiap hari selama 6 bulan pertama. Belum lagi efek samping obat yang tidak menyenangkan dan risiko kematian yang lebih tinggi.

Yulinda bukan satu-satunya pasien yang bandel minum obat anti TB. Di RSUP Persahabatan saja kini ada 480 pasien TB-MDR, namun hanya 338 yang menjalani pengobatan. Sisanya, ada yang meninggal dunia sebelum mendapatkan pengobatan atau menolak untuk diobati karena alasan enggan meninggalkan pekerjaan dan rumah yang jauh.

“Kalau sudah TB-MDR risiko kematian menjadi lebih tinggi. Itu masih bisa diobati walaupun menjadi lebih lama. Bila tidak diobati, maka pasien itu akan menjadi sumber penularan bagi orang lain,” jelas Dr dr Erlina Burhan, MSc, Sp.P (K), Ketua Pokja DOTS dan TB-MDR RSUP Persahabatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright Artikl Berita™ 2018
Shale theme by Siteturner